Jombang adalah salah satu kabupaten yang berada di
provinsi Jawa Timur, Indonesia. Kota yang berjuluk kota Santri ini sering
menjadi buah bibir. Mulai dari tokoh-tokoh nasionalnya yang berjawa bagi
nusantara hingga tokoh-tokoh yang kontroversial. Jombang tak bisa dipisahkan
dari akronim pembentuk namanya Jombang ''IJO dan ABANG'' yang menjadi ciri atau
karakter sosial budaya masyarakatnya. Ijo atau hijau untuk kalangan santrinya
dan merah untuk kalangan abangannya.
Kota santri ini menjadi rumah dari beebrapa budaya yang khas dan memiliki ciri khas yang unik atau biasa disebut ''Jombangan'' yang berkarakter khas.Apa saja budaya atau kesenian khas ''Jombangan'' check this out!
Ciri Khas Kota Jombang

Jombang adalah salah satu kota yang ada di provinsi Jawa Timur. Kota ini merupakan kota asal mantan presiden K.H Abdulrahman Wahid alias Gus Dur. Ciri khas dari kota Jombang ini adalah pondok pesantrenya. Di kota ini banyak sekali pondok pesantrenya, misalnya ponpes tebuireng, darul ulum jombang, ponpes denanyar, ponpes tambak beras dan masih banyak lainya. Maka tidak heran jika kota kecil ini mendapat julukan sebagai kota santri.
Kabupaten Jombang memiliki 21 Kecamatan dengan posisi geografis berada di bagian tengah Propinsi Jawa Timur bersebelahan dengan daerah yang memiliki etnis yang berbeda. Sebelah Timur Kabupaten Mojokerto yang merupakan daerah etnis budaya “arek”, sebelah Utara Kabupaten Lamongan yang mempunyai etnis campuran budaya Jawa Timuran dan pesisir Utara, sebelah Barat Kabupaten Nganjuk dengan budaya Jawa Tengah, sebelah Selatan Kabupaten Kediri juga etnis Jawa Tengah/Panaragan, arah Tenggara Kabupaten Malang merupakan daerah etnis Jawa Timur pesisir Selatan. Oleh karena itu dalam perkembangan peradaban, daerah Jombang tidak luput dari pengaruh wilayah sekitarnya.
Sunarto timur dalam bukunya membagi daerah Jawa Timur berdasarkan wilayah budaya menjadi beberapa wilayah etnis:
1. Etnis Jawa Osing, meliputi eks karsidenan Besuki dan Madura.
2. Etnis Jawa Timuran, meliputi karsidenan Malang, Sidoarjo, Jombang, Mojokerto, Surabaya, Gresik dan Lamongan.
3. Etnis Jawa pesisir Utara, yaitu Tuban, Gresik dan Bojonegoro,
4. Etnis Jawa pesisir Selatan, yaitu Pasuruan dan Malang Selatan.
5. Etnis Jawa Tengah, meliputi eks karsidenan madiun dan eks karsidenan Kediri.
Dilihat dari letak geografis, Jombang termasuk daerah etnis budaya Jawa Timuran yang mempunyai ragam campuran budaya, yaitu etnis Jawa Timuran atau budaya “arek”, etnis Madura, Panaragan, Mataraman dan etnis jawa Tengahan. Hal ini dapat dilihat oleh banyaknya imigran dari luar daerah yang menetap sebagai penduduk Jombang sejak dahulu, sehingga kebudayaan yang meraka bawa membaur dengan kebudayaan setempat. Sampei saat ini kebudayaan masyarakat Jombang memiliki warna khas yang menunjukkan perbedaan dengan masyarakat berkebudayaan atau etnis Jawa Timur aslinya. Ciri khas kebudayaan masyarakat Jombang tercermin dalam adat-istiadat bahasa dialek dan kesenian mereka.
Adat-istiadat orang Jombang begitu nampak dalam kehidupan masyarakat luar kota, karena masyarakat kota merupakan masyarakat yang sangat sulit untuk dipilah-pilahkan karena percampuran lingkungan heterogen dan pribumi sudah berbaur seiring dengan berkembangnya pola kehidupan jamannya. Namun jika kita memandang lingkungan di daerah luar perkotaan, dapat kita ketahui bahwa masyarakat Jombang merupakan manivestasi budaya masyarakat multi kultural.
Seperti budaya masyarakat didaerah Kecamatan Ngoro, Bareng, Mojowarno, Wonosalam, Jogoroto, Mojoagung, Sumobito, Kesamben secara umum memiliki latar belakang bahasc dialek dan adat-istiadat etnis Jawa Timuran asli/budaya “arek” hal ini ditandai dengan logat bicara yang berciri dengan menggunakan ucapan akhiran …se maupun …tah; contoh: ya’apa se, nang endi se, babah se. iya tah. age tah, wis mari tah dan sebagainya. Kemudian tercermin pada penekanan ucapan kata sifat biasa dipanjangkan, misalnya: adoh menjadi u…adoh. gedhe menjadi gu…edhe, apik menjadi u…apik, ireng menjadi u…irengdan sebagainya.
Berbeda dengan daerah Di Kecamatan Tembelang. Plandaan, Ploso, Kabuh, Kudu. Ngusikan tercemin budaya campuran etnis pesisir Utara, etnis Osing dan Jawa Tengahan. Hal ini dapat dibuktikan dengan kebiasaan dan dialek mereka sehari-hari memakai bahasa budaya kulonan (Jawa Tengahan) dan akhiran …ta; seperti: kowe, kuwi, ora, piye ta, endhi ta dan sebagainya. Anehnya di satu wilayah ini tepatnya di Desa Manduro Kecamatan Kabuh, masyarakatnya mempunyai bahasa dan kesenian Madura.
Di daerah tersebut kehidupan sehari-hari mayoritas sebagai petani padi dan patani tembakau, tetapi meraka juga suka berkesenian, seperti: kesenian ludruk, wayang kulit, dangdut, tayub dan campur sari. Dalam adat-istiadat masih menampakkan adat kejawaannya (kejawen); misalnya: walaupun agama yang dianut adalah agama islam tata cara berbicara, sikap dan tingkah laku dalam pergaulan jika bertamu biasa atau lebih akrab menggunakan kata kula nuwun atau nuwun sewu.
Lain halnya dengan di Kecamatan Megaluh, Perak, Diwek, Gudo dan Jombang bagian Barat di mana mereka memiliki etnis atau budaya campuran Jawa Tengah, Mataraman, Panaragan dan sedikit bercampur dengan budaya Jawa Timuran karena daerahnya berbatasan dengan Kabupaten Nganjuk, Kediri dan sebelah Timur Kecamatan Jombang adalah Kecamatan Jogoroto. Logat bicaranya-pun campuran budaya Jawa Tengahan/Mataraman dan budaya “arek”; contoh: piye se, ora se, gak mulih ta dan sebagainya. Walaupun pola kehidupan sehari-hari mayoritas sama dengan daerah tersebut diatas tetapi masih terdapat perbedaan, contoh: jenis keseniannya lebih dekat dengan budaya Jawa Tengahan, seperti wayang kulit, wayang krucil. Kuda Lumping jenis Sambaya dan kesenian reog Ponorogo.
Hal lain yang menurut tata bahasa Jawa janggal tetapi sudah menjadi kebiasaan mereka menggunakan tingkatan bahasa karma; misalnya: kula badhe siram, kula sampun dhahar, kula mboten pirsa. Sebaliknya tutur sapa kepada orang lain yang dihormati tata bahasanya di balik; misalnya: bapak sampun nedha, ibu tilem, mbah kesah, dan sebagainya. Mereka menyadari hal semacam itu, tetapi masih tetap dilakukannya karena sudah menjadi kebiasaan hingga turun- temurun sampai sekarang. Sehingga kebiasaan seperti itu disebut salah kaprah, artinya suatu yang tidak benar tetapi dianggap biasa. (Suyanto. 2002:7).
Secara universal masyarakat Jombang menunjukan kepribadian dan kehidupan mayoritas sebagai petani padi, sikap dan pola pikir yang terbuka (blak-blakan). Selain potensi alam yang dimiliki, di Kabupaten Jombang banyak terlahir tokoh yang mewarnai bumi pertiwi baik di tingkat lokal, regional, nasional bahkan diperthitungkan di tingkat internasional. Sehingga sampai sekarang masih bermunculan potensi sumber daya manusia di berbagai bidang, salah satunya bidang seni budaya yang mencerminkan budaya campuran, yaitu budaya Jawa Timuran, Jawa Tengahan, Jawa Pesisir Utara, Jawa Pesisir Selatan, Mataraman, Panaragan dan etnis Osing.
Menurut Ki Sareh, bahwa masyarakat Jombang merupakan wadah dan isi kebudayaan. Maksud kata wadah di sini adalah suatu tempat yang dijadikan penampungan dari berbagai etnis yang datang dan membaur satu dengan yang lainnya. Sedangkan isi adalah para tokoh serta pelaku seni budaya yang sadar akan pelestarian dan perkembangan seni budaya daerah. Sehingga keragaman budaya tersebut sebagai latar belakang seni budaya daerah yang majemuk menjadi kepribadian budaya masyarakat Jombang yang disebut “Gaya Jombangan” (Sareh, wawancara 2004). Di sisi yang lain ada pendapat Drs. Nasrul llah sebagai salah satu budayawan Jombang yang perlu digaris bawahi, karena relitanya Kabupaten Jombang mempunyai beberapa macam bentuk kesenian rakyat, seperti: Besutan, Ludruk, Jaran Kepang Dor, Hadrah, Kentrung, Sandur, Wayang Krucil, Wayang Topeng, Wayang Kulit dan sebagainya; di mana semua itu mencerminkan kearifan lokal masyarakat Jombang yang memiliki ragam berbeda dengan etnis Jawa Timuran yang lainnya (Nasrul llah, wawancara 2005).
KEBUDAYAAN JOMBANG
1. Besutan

Besutan adalah cikal bakal dari Ludruk. berawal dari kesenian lerok kemudian bertransformasi menjadi besutan karena lakon yang dimainkan bernama besut dengan berbagai macam cerita, akhirnya masyarakat mengenalnya dengan nama besutan. Ciri khas keseian ini ada seorang tokoh bernama Besut dan menggunakan baju putih, selendaang merah, make up wajah putih, dan peci merah. ada banyak tokoh dalam pertunjukan besutan, salah satunya yang terkenal adalah Rusmini.
Besutan berasal dari kata besut, merupakan salah satu tokoh dalam pertunjukan Besutan. Sebelumnya disebut Lerok dan kemudian Ludruk. Besut juga berasal dari bahasa jawa yaitu mbesut yang berarti membersihkan yang kotor atau menghaluskan atau mengulas. Adapun yang dibersihkan, dihaluskan, dan diulas adalah isi pertunjukan. Mulai dari bentuk yang sangat sederhana, ditingkatkan agar lebih baik, sehingga maknanya yang tersirat dapat diulas oleh penonton.
Besut juga merupakan akronim dari mbeto maksud (membawa maksud). Maksud yang dibawa adalah isi pertunjukan, yaitu yang terkandung dalam kidungan, busana, dialog, maupun cerita. Tokoh Besutan di Jombang tidak mengenal adanya Ludruk Bandan, Ludruk Besep, Ludruk Besutan. Mereka lebih mengenal istilah Lerok, Besutan, Ludruk. Walaupun secara rinci periode Ludruk di atas bentuk pengembanganya sama, yaitu mulai Lerok sampai Besutan hingga menjadi Ludruk.
Masyarakat Jawa Timur pada umumnya adalah masyarakat agraris, hampir seluruh wilayah pelosok Jawa Timur penduduknya berpenghasilan dengan bercocok tanam atau bertani. Daerah Jombang rata-rata masyarakat yang ada di pelosok desa berpenghasilan dari bertani, hasil dari bertani terkadang kurang untuk mencukupi hidup sehari-hari. Dari latar belakang inilah, sekitar tahun 1907 seorang penduduk yang setiap harinya bekerja sebagai petani dari desa Ceweng, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang yang bernama Pak Santik yang mempunyai wajah lucu (penuh humor), berinisiatif untuk menambah penghasilan dengan mengamen.
Ngamen yang dilakukannya diiringi musik lisan atau musik mulut, setelah ia berkenalan dengan Pak Amir, asal Desa Plandi, mereka memulai ngamen dengan menggunakan alat musik kendang. Perkembangan selanjutnya mengajak Pak Pono yang mengenakan busana wanita atau wedokan (hadirnya travesti pada awal abad ke-20).
Mereka bertiga ngamen dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dengan semboyan berbentuk pantun atau parikan (bahasa Jawa):
Keyong nyemplung neng blumbang
Tinimbang nyolong aluwung mbarang
(keong masuk ke kolam daripada mencuri lebih baik mbarang/ngamen).
Masa ngamen yang dilakukan oleh ketiga seniman alam itu diperkirakan terjadi tahun 1907 – 1915. Periode inilah yang disebut periode ngamen. Istilah yang muncul di kalangan masyarakat Jombang pada waktu itu ialah Lerok. Para pengamen yang muncul wajahnya dirias model coretan agar tampak lucu dan sulit dikenali wajah yang sebenarnya. Dalam perkembangan selanjutnya timbullah istilah Lerok Ngamen yang berasal dari kata lorek ngamen (wong lorek ngamen).
Kesenian Lerok Ngamen mendapat sambutan baik dari masyarakat, sehingga sering diundang ke tempat orang orang yang mempunyai hajatan (penganten, sunatan, ngruwat dan lain lain) dengan sebutan nanggap lerok.
Sebelum pementasan dimulai, didahului dengan serangkaian upacara selamatan, dengan perlengkapan sesaji yang terdiri atas:
1. Suruh ayu, kinangan lengkap dengan daun sirih berwarna kuning.
2. Pisang ayu, pisang raja satu tandan.
3. Kain putih (bahasa jawa lawe).
4. Uang logam (bahasa jawa dhuwit saren).
Urutan Pertunjukan Besutan
Urutan pertunjukan yang dimaksudkan adalah urutan pertunjukan Besutan dari awal sampai sekarang, dari zaman ke zaman selalu mengalami perubahan dan perkembangan sampai bentuk aslinya tidak nampak lagi. Di bawah ini akan diuraikan urutan jalanya pertunjukan Besutan sampai sebutan Besutan diganti dengan sebutan Ludruk.
1. Pertunjukan Besutan pada periode awal
Sebelum Besut memasuki arena, di tengah pentas ada obor yang belum dinyalakan. Setelah Gendhing kalongan berbunyi, keluar seseorang menyalakan obor. Besut keluar dengan mata terpejam dan mulutnya disumbat dengan tembakau (Bahasa Jawa Susur), berjalan dengan ngesot (berjalan dengan duduk, kedua tangan sebagai penyangga). Gendhing kalongan masuk irama dua, tanda Besut mulai menari. Tarian selesai, iringan berhenti, lalu obor dimatikan. Besut mulai membuka mata perlahan-lahan dan kemudian penyumbat mulutnya dibuang, dilanjutkan kidungan bersaut-sautan dengan pengrawit, kidungan selesai dan dialog dengan paman Ganda, Rusmini, sesuai dengan cerita. Pada periode awal, Besutan selalu menggunakan cerita yang tetap (hanya satu cerita), yaitu masalah Besut mencari pekerjaan ke Surabaya. Setelah cerita yang diwujudkan lewat dialog selesai, berarti selesai pula rangkaian pertunjukan Besutan.
2. Perkembangan Besutan
Yang menjadi pelaku Besut, dianggap sebagai pemimipin. Tokoh ini sebelumnya disebut Lerok , karena bedaknya yang putih tebal dan tidak rata, sama artinya dengan Lorek . Pendapat ini diperkuat oleh Henricus Supriyanto (1984:16) yang mengungkapkan kata Lerok itu dari kata Lorek. Kemudian Besut lebih lanjut disebut Ludruk. Ludruk yang dimaksudkan adalah bukan bentuk teater yang berkembang saat ini, tetapi sebutan tokoh dalam pertunjukan Besutan.
Perkembangan Besutan semakin maju dengan pesat, dikarenakan ada permintaan dari penanggap supaya pertunjukan Besutan berakhir pada dini hari. Maka pihak pemain berusaha menambah bentuk permainanya berupa: (1). Ngremo putra. (2). Cumplingan atau lawakan; (3). Cerita yang dipentaskan pukul 24.00 sampai dengan pukul 01.30, mengisahkan Besut dalam mencari pekerjaan, (4). Tambahan cerita lain, berakhir sampai pagi. Tambahan cerita tersebut antara lain, Besut kawin lagi, Besut jadi Mantri, Besut tergoda dan lain sebagainya.
Perkembangan selanjutnya, tidak lagi mengisahkan Besut, Rusmini, dan Ganda, tetapi menampilkan tokoh lain. Tokoh lain semakin menarik dan disukai masyarakat, menimbulkan cerita Besutan hilang sama sekali. Karena gerakan Besut kepalanya “gela-gelo” dan kaki kanan dihentakkan (Bahasa Jawa Gedruk-Gedruk) maka muncul istilah Ludruk. Kini Ludruk berkembang pesat, akhirnya istilah Ludruk bukan sebagai salah satu tokoh, tetapi merupakan bentuk teater rakyat yang berkembang di beberapa daerah di Jawa Timur.
3. Besutan pada periodesasi 1972 sampai dengan 1991
Merupakan periode yang kembali ke bentuk awal dari Besutan. Tidak ada ngremo, dan tambahan cerita yang menyimpang dari Besutan. Lawakan tetap ada karena merupakan bagian dari serangkaian Besutan yang diwujudkan lewat dialog. Juga gerakan Besutan yang bertipe gecul. Secara rinci teruraikan sebagai berikut
a. Gendhing Kalongan (Bahasa Jawa).
b. Besut memasuki arena pertunjukan tidak lagi dengan duduk, tetapi berjalan maju mengikuti pembawa obor. Mulutnya tersumbat susur dan kedua matanya terpejam. Langkahnya sesuai dengan pemukulan gamelan, pada hitungan ketiga gong terakhir obor dilempar dan sekaligus susur yang ada di mulutnya disemburkan. Dilanjutkan gerakan tari “Gejuk” menuju ke tengah arena. Sampai di tengah, duduk sila dan sembahan. Sembahan selesai, lalu berdiri, dilanjutkan menari dengan ragam gerak yang tersusun.
c. Tanpa Gendhing.
Selesai menari, mata Besut mulai dibuka, kain putih diturunkan dengan tujuan memperlihatkan dada, dan mulai bersuara “Uhu..Uhu…”. Pengrawit mulai memukul nada-nada tertentu, dengan tujuan Besut dapat menyesuaikan suaranya dengan nada yang ada dalam gamelan. Setelah tahu nadanya, dilanjutkan dengan kidungan pambuka, saling menyaut antara besut dengan pengrawit, dan kidungan pos sebagai akan dimulainya gendhing Jula-Juli
2. Ludruk Jombangan

Dalam berbagai sumber menyebutkan bahwa Ludruk berasal dari kabupaten Jombang.Berasal dari kesenian Lerok, kemudian Besutan dan bertransformasi mejadi Ludruk. Ludruk adalah salah satu bentuk teater rakyat tradisional yang diiringi oleh gamelan laras Jawa Timuran, biasanya menceritakan tentang tokoh yang pada zaman pejajahan, cerita Panji, atau cerita tentang kehidupan sehari-hari.
Jombang
identik dengan Ludruk. Sebab, menurut sejarahnya, kesenian rakyat ini lahir
dari tangan para seniman Jombang sebagai aset kesenian “kota santri”, bernama
Wak Rebo. Pada tahun 1920-an saat penjajahan Belanda, seniman yang konon
tinggal di Desa Kebun agung, Kecamatan Ploso, Jombang itu berjuang
mempertaharrkan hidup dengan menjual jasa sebagai pengamen.
Dengan sedikit kepandaian menari dan mengidung, Wak Rebo ngamen dari rumah ke
rumah ke luar masuk desa. Untuk menutup jati dirinya, ia membedaki wajahnya
coreng moreng seperti orang gila. Ini terpaksa dilakukan supaya tidak malu dan
semata untuk mendapatkan sesuap nasi. Dandanan dan tarian sekenanya itu,
ternyata justru sering mengundang tawa. Genik Lakunya pun menarik perhatian
penonton.
Padahal, musik yang megiringinya cuma “gamelan garingan”. Yokui, orkestrasi
mulut yang dilantunkan di sela kidungnya.
Iwak bandeng numpak kreta … plak … nong . . . plak ….
iwak teri dowo buntute … yo “aman . .. .”Iak . . . nang …plak . . . nang ….
Nek seneng ketok mota kate dirabi gak kuat blanjane … plak … nang … plak . …
neng .. . ! dilanjutkan dengan kidungan lain atau gending yang dikuasainya.
Kesenian model Wak Rebo itu, dalam perkembagnannya kemudian oleh Wak Santik,
seniman asal Desa Ceweng, Kecamatan Diwek dilengkapi dengan alat musik ken
dang. Personilnya pun ditambah dua orang, yakni : Amir dan Pono. Namun
dandanannya tetap ala Wak Reba. Setiap ngamen, ketiganya memoles mukanya coreng
moreng. Hanya yang satu orang, Pono, mengenakan busana wanita, yang kemudian
disebut sebagai “wedokan”. Hadimya kelompok seniman Santik itu, agaknya,
membuat tontonan seni jalanan ini menjadi lebih segar dan menciptakan gerak
laku kegembiraan dan lebih menarik perhiltian.
Kemudian tarian ini dikenal sebagai kesenian lerok. Dan dalam perjalanannya
lalu mengalami beberapa modifikasi. Pendudukng tari ditambah, cerita bervariasi
dan dilengkapi seperangkat orkestrasi gamelan. Maka jadilah kesenian baru yang
disebut “Ludruk”.
3. Remo Bolet

Warga Jawa Timur khususnya sering sekali menyaksikan tarian tradisional Remo. Biasanya dalam berbagai macam acara tradisi dibuka dengan tarian Remo. Banayak sekali versi yang menceritakan makna tarian Remo. Salah satunya cerita Semangat prajurit yang gagah berani dalam melawan penjajah. Penari yang identik dengan gerakan tegas, suara gongseng/lonceng yang bergemerincing di kaki ini simbol dari watak penduduk Jawa Timur yang dinamis. Namun Remo bolet memiliki ciri-ciri khusus yaitu liukan-liukan kepalanya. hal tersebut yang menjadi pembeda REmo boetan dengan tari remo lain yag berada di Jawa Timur.
4. Wayang Topeng Jatiduwur

Jawa timur memang kaya dengan kesenian yang menggunakan tpeng ada Topeg Getak Madura, Tari Topeng Malangan, dan yang etrbaru Wayang Topeng Jatiduwur dari kecamatan Kesamben.
5. Jaran Kepang Dor

Kesenian
tradisional Jaran Dor sudah ada di Jombang sejak masa penjajahan Belanda. Pada
tahun 1925 berdirilah grup jaran dor di Desa Kemambang, Diwek, beranggotakan 14
orang. Saat ini, dari sejumlah itu, hanya tersisa satu, yaitu Yasmo (usia 106
tahun) warga Desa Jatirejo Barat.
Jaran dor merupakan kesenian tradisional kudalumping asli Jombang. Perbedaan
yang kentara dengan jaranan lain dan menjadi ciri khasnya adalah alat musik
jidor yang saat ditabuh berbunyi dor.
Makanan Khas Kota Jombang
1. Kikil Jombangan

Kikil sendiri adalah kakinya sapi atau kerbau. kikil ini merupakan baan dasar makanan khas kiki jombang ini, Kikil dimasak dengan suhu tinggi dan dengan waktu yang lumayan lama, ditambah dengan bumbu-bumbu khas, dikasih santan dan bahan-bahan pendukung. Jadilah makanan khas kikil Jombang. Kikil ini akan terasa lebih enak jika dimakan pakai nasi. Untuk tambahan nasi kikil ditambah dengan kering tempe atau tahu, diberi sayur bung/bambu yang masi muda dan empal daging atau jeroan sapi yang dimasak bacem. Dalam penyajiannya menggunakan daun pisang yang dibentuk pincuk.
2. Es Degan Jombangan


Es degan khas jombang ini berbahan dasar Buah dari kelapa muda yang diserut kemudian diberi gula dan es. Yang menjadikan khasnya Es degan ini mendapat bahan tambahan yang berupa nata de coco, alpukat, dan durian yang dilengkapi dengan susu cair.Tambahan-tambahan khas tersebut yang membuat es ini terasa nikmat.
3. Pecel rengkek

pecel
rengkek pasti anda bertanya-tanya apa sih rengkek itu?? nama makanan khas pecel
dini di ambil dari asal penjualnya yang kesemuanya kaum ibu paruh baya membawa
semacam box yang terbuat dari kayu dan tripleks, yang orang-orang terkadang
juga menyebut box ini dengan ronjot, ditaruh di atas sepeda atau sepeda motor.
Tempatnya itu di namakan rengkek, Nasi pecel ini di sajika dengan pincuk yang
menjadikan uniknya makanan ini.
4. Sego Sadukan

Sego Sadukan ini ialah nasi bungkus yang isinya sekepal nasi, ada mie, lauk tahu-tempe diiris kecil-kecil, dan kadang-kadang ada tambahan ikan teri di dalamnya. Sadhukan artinya tendangan, mungkin karena porsinya yang minimalize itulah dinamakan Sego Sadhukan, sekali tendang langsung bisa mencelat jauh atau sekali santap langsung habis.
5. Onde-onde Kacang Merah

Onde-onde Kacang Merah ini terbuat dari bahan dasar tepung beras ketan yang ditaburi dengan wijen, untuk dalamnya diisi dengan kacang merah. Makanan khas ini sangat cocok untuk di jadikan oleh-oleh sewaktu anda berkunjung ke jombang.